Membaca untuk Menulis
Menulis itu kelihatannya gampang. Cuma menyusun kata per kata hingga menjadi kalimat dan paragraf yang utuh.
Tapi, ketika buka aplikasi notes... blank.
Jari rasanya kaku. Baru nulis satu kalimat, dihapus, karena rasanya kurang pas.
Sudah nulis panjang-panjang, tapi setelah dibaca ulang, bingung sendiri. Ini saya nulis apa ya, kok malah ngalor ngidul nggak jelas.
Pernah seperti itu? Hehehe. Saya pernah.
Saya sadar, menulis itu rupanya bukan hanya menyusun kata-kata supaya menjadi kalimat yang indah, tapi menyampaikan gagasan, pandangan, dan pengetahuan akan suatu hal secara jelas.
Dalam menulis, cukup banyak hal yang perlu diperhatikan. Misalnya, pemilihan kata dan ketersambungan antarkalimat.
Kombinasi yang baik dari kedua aspek tersebut akan membuat tulisan lebih mengalir dan enak dibaca. Poin utama tulisan pun bisa tersampaikan dengan baik.
Ada satu tips ampuh supaya tidak stuck saat menulis dan kualitas tulisanmu bagus. Bukan dengan membuat outline tulisan, tapi dengan... membaca.
Stuck saat menulis itu bisa jadi salah satunya karena kekurangan ide dan referensi. Bingung memulai kalimat dari mana. Bingung menentukan pemilihan kata.
Karya tulisan orang lain itu bisa jadi sumber referensi yang berharga. Bagaimana suatu penulis merangkai kalimat, bagaimana gaya khas penulis, itu semua bisa dipelajari dengan membacanya.
Kualitas tulisan orang yang sering membaca biasanya lebih mengalir, lebih ngena, dan lebih bagus. Ini karena mereka memiliki banyak referensi di otaknya.
Mereka tahu mana kalimat yang bisa menyentuh pembaca, mana susunan kata yang bisa menjelaskan poin utama supaya mudah dipahami. Mereka bisa tahu karena mereka sendiri merasakannya saat membaca.
Jadi, kalau kamu masih sering stuck saat menulis, coba perbanyak membaca tulisan orang lain. Kalau referensi sudah banyak, biasanya ide akan mengalir dengan sendirinya.
Jangan berhenti menulis, ya!
Tulisan lainnya