Review Omarchy
Sebelum masuk ke review inti Omarchy, saya ingin sedikit bercerita tentang awal mula Omarchy lahir: apa kejadian yang melatarbelakangi dikembangkannya Omarchy ini. Saya ingin bahas karena journey-nya cukup menarik. Saya cukup tahu karena saya mengikutinya dari sejak DHH "galau" pilih sistem operasi setelah dia merasa cukup dengan Apple.
Latar Belakang
Semua bermula dari kebijakan-kebijakan Apple membuat DHH muak. Beberapa di antaranya adalah menghapus dukungan web app yang berjalan dengan WebKit di negara-negara Uni Eropa, dan monopoli distribusi software serta komisi Apple. Di mata DHH, ini bukan soal menghilangkan dukungan, tapi lebih kepada idealisme-nya: "aku udah beli komputer, tapi kenapa perusahaan pembuat komputer masih menentukan apa yang harus saya lakukan dengannya?"
Awalnya dia melirik Windows. Tapi sepertinya ia kurang terlalu cocok. Salah satu sistem operasi yang sesuai dengan idealisme di atas adalah Linux.
Ia lalu mencoba Ubuntu, dan terciptalah Omakub: Omakase Ubuntu. Awalnya Omakub dibuat supaya Ubuntu itu benar-benar siap pakai untuk development dan pekerjaan sehari-hari. Tapi siapa sangka, eksplorasinya di Omakub membangun sebuah mindset baru: "kalau aku bisa ubah-ubah Ubuntu sesuka hati, berarti aku juga bisa melakukannya di distro lain". Ia pun berkenalan dengan Arch Linux dan Hyprland, dan mulai mengembangkan linux versi-nya sendiri, yaitu Omarchy.
Versi Awalnya Masih Sangat Arch
Versi awal dari Omarchy hanyalah sebuah bash script yang akan otomatis menginstall Hyprland dan Quickshell serta melakukan beberapa konfigurasi lainnya. Untuk menggunakan Omarchy, pertama-tama harus install Arch Linux dulu. Arch Linux di mata saya terasa cukup menakutkan, karena untuk menginstall OS saja harus melakukan beberapa perintah yang saya kurang familiar. Salah step sedikit saja, resikonya fatal. Perbandingan antara apa yang akan didapat dengan kerusakan yang dapat ditimbulkan masih belum dapat saya terima.
Ini yang menahan saya untuk langsung mencoba Omarchy. Kalau Omarchy ini booming saat saya masih hobi gonta-ganti sistem operasi seperti masa kuliah dulu, sepertinya saya akan coba tanpa pikir panjang.
Tapi, sekarang situasinya sudah berbeda. Di mata saya sekarang, sistem operasi adalah komitmen jangka panjang. Sehingga, memutuskan pindah sistem operasi harus memiliki pertimbangan yang matang. Mindset saya sekarang yang penting kerjaan selesai, selama bukan pakai Windows. Ya, dari dulu saya nggak suka sama Windows. Lemot dan terlalu banyak bloatware, ditambah fitur auto update-nya yang menyebalkan.
Omarchy lalu berkembang dengan sangat pesat, terlepas dari banyaknya pro-kontra yang muncul dari komunitas Linux. Orang-orang mulai notice dengan Omarchy, lalu mencobanya, dan banyak orang yang suka. Yang mereka sukai dari Omarchy adalah banyak laptop jadul yang sudah berdebu di lemari, tiba-tiba hidup lagi dan bisa dipakai dengan mulus setelah di-instal Omarchy.
Meskipun begitu, saya masih belum berani instal Omarchy, sampai saya membaca banyak testimoni positif tentang Omarchy Quattro. Ada beberapa alasan kenapa saya akhirnya mantap untuk pindah ke Omarchy. Dua di antaranya adalah instalasi yang lebih sederhana dan storage laptop yang semakin sesak karena dual boot.
Instalasi Lebih Sederhana
Sejujurnya, saya tidak terlalu mengikuti perkembangan dari Omarchy 2 dan Omarchy 3. Tapi, saya tahu, selama perjalanannya, Omarchy pelan-pelan mulai punya ISO dan installer sendiri yang lebih user friendly. Di titik ini saya mulai tertarik untuk install, tapi masih agak malas melakukan backup data.
Barulah di Omarchy Quattro saya mulai tertarik untuk install Omarchy. Selain karena Omarchy Quattro menurut saya sudah cukup matang, saya juga sudah jengah karena harus menghapus file-file besar yang sudah tidak digunakan hanya untuk membuat storage sedikit lebih longgar. Meskipun AI agent yang melakukannya, tapi tetap saja, ada saat di mana saya sedang ngoding, tiba-tiba program tertentu tidak bisa dijalankan, atau AI agent yang sedang bekerja tidak bisa melakukan apapun karena storage-nya penuh.
Mengejutkannya, install Omarchy ternyata sangat cepat dan sederhana. Cukup input beberapa data yang diperlukan untuk proses setup, itu pun dipandu dalam bentuk wizard. Sebagai user, kita hanya perlu input data, konfirmasi data, lalu tunggu beberapa saat. Dengan spesifikasi laptop RAM 16GB dan prosesor AMD Ryzen 5 7430U, Omarchy di-install hanya dalam 2 menit 23 detik!
Oiya, sebelum install Omarchy, saya backup dulu beberapa data yang penting, terutama SSH keys, password store, GPG keys, project-project saya, serta beberapa file lain. Ini penting supaya saya tidak perlu bikin kredensial baru, dan data-data penting tetap kita miliki. Kalau buat SSH key baru atau GPG key baru, waduh... saya harus menyesuaikan banyak hal. Saya juga jadi nggak bisa buka password store. Repot dan berbahaya sekali!
Langsung Siap Pakai untuk Developer
Salah satu yang saya suka dari Omarchy adalah tools yang diperlukan oleh developer sebagian besar sudah pre-installed. Misalnya, Docker, NeoVim, dan bahasa pemrograman yang biasa kita pakai. Tidak perlu lagi setup sana-sini hanya supaya kita bisa bekerja.
Omarchy memakai Mise untuk manajemen bahasa pemrograman dan runtime. Mau pakai Ruby 2, Ruby 3, atau Ruby 4, Mise yang urus itu. Bukan hanya Ruby, Mise juga bisa instal dan atur versi bahasa pemrograman atau runtime lain, seperti Python, NodeJS, Deno, atau Bun.
Semuanya Terasa Lebih Mulus
Saat pertama kali buka, kesan pertama saya adalah... SMOOTH BANGET. Transisi-nya, editing text-nya, cursor mouse-nya, scrolling-nya. Semuanya benar-benar diperhatikan. Saya merasa seperti disambut: "selamat datang di Omarchy, di mana komputer kamu adalah sepenuhnya milik kamu, komputer tidak harus lag dan lemot, tampilan komputermu tidak harus jadul, dan komputer itu harus menyenangkan."
Khusus text editing dan cursor mouse, ini agak sulit dijelaskan. Kamu harus mencobanya sendiri. Tapi biar saya coba deskripsikan sebisa mungkin.
Saat menghapus saya, seingat saya di Ubuntu MATE itu ada delay yang agak lama sebelum teks benar-benar terhapus. Pergerakan cursor mouse di Ubuntu MATE rasanya agak kaku. Begitu juga dengan scroll scroll tampilan. Di Omarchy, semua ini benar-benar mulus. Semuanya berkebalikan dengan pengalaman di Ubuntu MATE dengan i3wm.
Saya juga sempat cek di X, banyak user yang bilang bahwa Omarchy ini benar-benar smooth. Saya baru paham maksud "smooth" di sini setelah benar-benar mencobanya langsung.
Ganti-Ganti Tema tanpa Ribet
Selain tiling window manager, ada satu fitur yang saya suka dari Omarchy, yaitu ganti-ganti tema. Kalau bosan dengan satu tema, saya bisa dengan mudah ganti ke tema lain. Thanks to Quickshell yang membuat ini semua menjadi memungkinkan.
Yang kerennya juga, saat ganti tema, tidak hanya tampilan utama yang berubah, tapi tema window-nya juga! Misal, ini saat saya pakai tema Catppuccin.

Saat diganti jadi Everforest, color scheme-nya juga ikut berubah:

Ini keren, dan efisien karena kita tidak perlu melakukan setup apapun lagi. Semua dilakukan secara otomatis.
Transisi Tidak Terlalu Sulit
Kalau kamu pertama kali pakai window manager yang didesain untuk keyboard-first navigation, kamu harus membiasakan diri untuk tidak sedikit-sedikit menggunakan mouse untuk navigasi. Tapi kalau sebelumnya sudah terbiasa pakai window manager sejenis seperti i3wm, pindah ke Omarchy rasanya tidak terlalu sulit. Tinggal membiasakan diri dengan keybinding yang baru.
Itu pun kamu bisa dengan mudah mengakses ada keybinding apa saja dengan menekan tombol Super+K. Tombol Super ini biasanya tombol Windows atau Command kalau di Macbook. Jadi, sisanya tinggal jam terbang aja, nanti muscle memory akan menghafal dengan sendirinya.
Penutup
Saat saya menulis ini, saya baru sehari pakai Omarchy, jadi belum bisa review terlalu banyak. Yang paling terasa ya experince-nya yang sangat mulus. Ini memang soal rasa. Saya jelaskan bagaimana pun rasanya kurang afdol kalau kamu nggak mencobanya sendiri.
Kalau kamu ada laptop jadul yang tidak terbengkalai, kamu bisa coba install Omarchy di laptop itu dan lihat bagaimana laptop jadulmu itu rupanya masih bisa digunakan dengan mulus.