The Broken Window Theory
Note:
Tulisan ini pernah saya tulis di akun Twitter saya, @adi_prnm. Saya repost di sini supaya yang lain juga bisa membacanya.
Percaya gak sih, kalau kehancuran suatu kota bisa disebabkan hanya karena satu kaca jendela yang pecah?
Percaya gak percaya ya? Oke, sementara lanjut aja dulu ya.
Jadi ceritanya begini: Di suatu kota, ada sebuah bangunan yang gak keurus. Abandoned. Terabaikan.
Kemudian, terjadi suatu hal yang menyebabkan kaca jendela bangunan itu pecah. Prak!
Di sekeliling bangunan itu, gak ada satu pun orang yang peduli.
Lalu, hari-hari selanjutnya, kaca jendela kedua pecah. Selanjutnya lagi, kaca jendela ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya sampai semua kaca jendela pecah.
Setelah semua kaca jendela pecah, orang-orang di sekeliling bangunan itu pun masih gak peduli.
Kemudian, muncul kejadian selanjutnya. Orang-orang mulai membuang sampah di sekitar bangunan itu, hingga sampah-sampah itu menutup sekeliling bangunan.
Bisa dibayangkan sih, kaca jendela pecah semua, ditambah sampah-sampah yang menumpuk, orang-orang di sekeliling bangunan itu pun makin gak peduli lagi sama nasib itu bangunan. Pola pikir orang-orang pun makin kuat kalau bangunan itu emang bener-bener gak keurus.
Akhirnya, kerusakan selanjutnya pun muncul. Di dinding-dinding bangunan itu, muncul graffiti dan bekas aksi vandalisme.
Kerusakan-kerusakan ini memicu kerusakan stuktural yang lebih parah, yang menyebabkan bangunan itu menjadi rusak.
Dan, viola! Satu bangunan rusak dikarenakan satu kaca jendela yang rusak. Jika kejadian itu berlangsung terus menerus, maka gak mustahil, kalo satu kota bisa jadi rusak, kumuh, dan kotor.
Oh ya, teori ini disampaikan di buku The Pragmatic Programmer karangan Andrew Hunt dan David Thomas. Pada buku itu lebih dijelaskan ke entropi software: bahwa suatu software bisa jadi kacau hanya karena kesalahan kecil yang dibiarkan gak diperbaiki.
Tapi, saya pikir hal ini gak hanya berlaku pada software. Pada bidang-bidang lain pun berlaku, misalnya pada kehidupan sehari-hari kita.
Misalnya, pada hari Minggu ini saya punya agenda A, B, C, D. Saya sudah mengalokasikan waktu, agenda A jam sekian, B jam sekian, C jam sekian, D jam sekian.
Tapi agenda itu gak terlaksana semuanya karena satu hal: mager!
Contoh lain, misalnya kita lagi nugas bikin laporan. Nyari referensinya di Internet.
Baru mau ngetik kata kunci di mesin pencari, terus kepikiran, “Kayaknya mau steaming dulu ah, satu video, terus nugas.”
Akhirnya, karena ada sistem video rekomendasi, malah keasyikan streaming. Yang tadinya mau nugas jadi berasa maleees banget. “Besok aja deh”.
Tugas pun gak beres. Dan hal yang sama di hari berikutnya terus berulang.
Contoh-contoh tersebut: jendela rusak, agenda ABCD, dan nugas, memiliki satu benang merah yang sama.
Suatu hal yang besar dapat menjadi hancur dan berantakan karena ketidakpedulian kita terhadap hal-hal kecil dan sepele.
Seringkali kita berpikir,
“ah, cuma ini doang”, “ah, cuma itu doang”, “ah, cuma…”, “ah, cuma…”,
Perlu diingat, seseorang terjatuh bukan karena batu yang besar, tapi karena kerikil di jalanan.
Mari berhenti memandang suatu hal dengan sepele. Mari perhatikan lagi hal-hal yang kita aggap kecil, dan jika sekiranya hal tersebut dapat membuat kita kelabakan di kemudian hari, perbaiki saat itu juga.
Semoga bermanfaat 🙂
Balas melalui email.