adipurnm

adipurnm's log

March 20, 2020

Tentang Ujian Hidup

Allah menurunkan ujian dalam bentuk yang berbeda-beda.

Ada yang diuji melalui orang tuanya. Seperti Nabi Ibrahim AS. Ayahnya, Azar, penyembah berhala kelas kakap.

Tapi apa yang dilakukan beliau?

Beliau tetap sabar, dan terus memanggil ayahnya dengan “yaa abati” ketika berdakwah kepada ayahnya. Panggilan terlembut dari seorang anak kepada sang ayah yang berarti “hai ayahku”.

Ada yang diuji melalui penyakitnya. Seperti Nabi Ayyub AS. Penyakit yang beliau alami selama membuat beliau terasing dari masyarakat selama bertahun-tahun.

Tapi apa yang dilakukan beliau?

Beliau tetap bersabar, dan berdoa “(Yaa Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”, hingga akhirnya Allah sembuhkan dan melipatkandakan harta serta keturunan beliau.

Ada yang diuji melalui keturunannya. Seperti Nabi Zakaria AS. Hingga usia senja, beliau dan istrinya belum dikaruniai keturunan oleh Allah.

Tapi apa yang dilakukan beliau?

Beliau tetap sabar, dan berdoa dengan suara yang lembuuut sekali, “Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku.”. Tidak pernah kecewa! Hingga akhirnya Allah mengaruniai seorang anak bernama Yahya.

Ada yang diuji melalui kerasnya kehidupan. Seperti Nabi Muhammad. Saat berdakwah di kota Thaif. Beliau dicaci, dihina, dikatakan gila, dilempari kotoran. Berdakwah hingga berdarah-darah.

Tapi apa yang dilakukan Nabi Muhammad?

Beliau tetap sabar. Saat malaikat bertanya, “Yaa Rasulullah, maukah kutimpakan gunung ini kepada penduduk Thaif?”, jawaban beliau sungguh bijaksana, “Jangan, mungkin dari keturunan mereka akan muncul generasi yang mencintai Allah dan Rasulnya”.


Ketika dihadapkan dengan ujian, kita selalu bisa memilih: bersabar dan menerima, atau gusar dan berpaling. Masing-masing ada konsekensinya, terlebih konsekuensi jangka panjang.

Jika konsekuensi menurut-Nya itu baik, kenapa kita memilih konsekuensi yang buruk?

Kita memang bukan nabi, tapi kita masih bisa meneladani sifat-sifat nabi, bagaimana nabi menghadapi ujian dan persoalan hidup, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Balas melalui email.