Mengunjungi Situ Yang Airnya Warna Biru di Majalengka
Catatan:
Tulisan ini kata “saya” saya ganti jadi “saya” untuk alasan konsistansi. Sebenernya masih ngerasa aneh aja sih nulis lu-saya bagi orang kampung macam saya, haha.
Hi!
It’s been a while since I wrote my last post. Entah ada angin apa tiba-tiba kangen nulis di blog lagi. AH, mungkin efek dari kemarin main ke Majalengka. Awalnya cuma pengen beresin Instagram feed saya yang ga ada estetik-estetiknya sama sekali. Terus tiba-tiba kepikiran ini blog.
Merasa berdosa banget saya punya blog tapi nggak diurus haha. So, well, as the first step, saya melakukan sedikit modifikasi di bagian judul blog sama color scheme template ini, sama mungkin bakalan nambah page About Me kali ya biar agak kece dikit.
Judul blog yang lama rasanya kayak gimanaaa gitu ya. Sama color scheme sebelum ini buat saya pribadi terlalu terang. Harapannya, color scheme sekarang bisa lebih soft dan nggak bikin mata cepat lelah.
Ke depannya mungkin saya juga bakalan beli domain, biar ada sedikit beban moral buat terus update ini blog, haha.
So as the first post after a while, saya bakalan cerita tentang pengalaman main ke Majalengka. Ke Situ Cipanten, tepatnya, di kecamatan Sindang.
As usual, when weekend comes, saya selalu berusaha untuk keluar dari rumah. Main ke mana gitu, atau ga kuliner. Cuz, bro, Senin sampe Jumat 8 jam depan komputer kalo ga ada refreshing sama sekali bisa stress ogud.
Untungnya, ada dua teman saya yang mostly kalo diajak main atau kuliner ke mana, 99% selalu menjawab “gass”, “kuy”, “hayu”, dan sebagainya. Sebut aja nama mereka Jembar dan Rofie.
Dan hal ini pun berlaku untuk kali ini. Tepatnya minggu kemarin. Berbekal perbincangan ketika nongki di kedai martabak Amaii (ada IG nya juga loh, @martabakamaii) dan di WhatsApp beberapa waktu sebelumnya, akhirnya Minggu pagi, sekitar jam setengah 9 pagi, kami berangkat ke Situ Cipanten.
Sekalian sumori, lumayan.
Sepanjang perjalanan, beberapa kali mata kami dimanjakan oleh pemandangan alam. Salah satunya adalah pemandangan Gunung Ciremai. Yup, gunung tertinggi di Jawa Barat.
Cuma keliatan puncaknya, but still soo beautiful. Sumber: dokumentasi pribadi
Perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam. Setelah melewati tanjakan, turunan, jalan berkelok, dan lubang jalan yang unexpected (literally unexpected, like how could there’s a hole when the road seems to be so seamless?), kami tiba di lokasi sekitar pukul setengah 12.
Kesan pertama kami saat itu adalah: WOW. Ngeliat air yang bening kebiruan, di bawahnya banyak ikan, luas pula. Kereeen.
Sumber: dokumentasi pribadi
Biaya masuk ke sini pun cukup terjangkau. Karena kami pake motor, 2 motor biayanya 25 ribu. Keitungnya per motor berarti tiket masuk 10 ribu dan parkir 2.500. Dengan tiket masuk segitu, menurut saya pribadi worth it banget karena bisa dapet view seperti di atas.
Tapi, 12.500 itu cuma tiket masuk plus parkir ya. Masih banyak pretelan lainnya. Contohnya adalah pelampung. Berenang di sini wajib pake pelampung gais. 1 pelampung harga sewanya 10 ribu, dan itu sepuasnya, ga dibates jam.
Setelah jajan cilor (aci telor), kami nyari spot buat nyimpen barang-barang dan pakaian, ngabisin cilor, pake pelampung, dan nyemplung ke Situ. Oiya, Situ Cipanten ini memang terletak di dataran tinggi. Jadi, airnya pun seger banget. Dingin-dingin gitu, ala-ala air pegunungan (emang air pegunungan sih). Rasanya penat selama perjalanan menuju ke tempat ini langsung terbayarkan.
Selain pelampung, ada juga biaya tambahan kalo kita pengen nyoba fasilitas-fasilitas lainnya. Karena kami nggak nyoba fasilitasnya satu-satu, saya kutip harganya dari web ini ya.
| Fasilitas | Harga |
|---|---|
| Wahana Perahu | Rp 5.000 |
| Wahana Sepeda Gantung | Rp 20.000 |
| Bebek Goes | Rp 20.000 per 20 menit |
| Foto Kapal Titanic | Rp 2.500 |
| Foto Jembatan Cinta | Rp 2.500 |
Di sini juga kita bisa memberi pakan ikan yang hidup di Situ. Pakan ikan bisa dibeli di warung yang ada di kawasan Situ dengan harga 2 ribu saja.
Ini foto waktu kita hendak mau pulang. Dibuang sayang, jadi saya simpen aja di sini.
On our way back home, langit Majalengka udah keliatan mendung banget. Sebenernya pas kita nyampe ke Situ Cipanten juga udah mendung sih. Akhirnya, setelah isi bensin, kami memutuskan untuk memakai jas hujan, khawatir di perjalanan hujan deras turun.
Gerimis turun, ditambah kabut cukup tebal. Kami menepi sebentar untuk sekedar mengabadikan momen yang jarang ini. Iyalah, terakhir kabut turun di Ciamis itu awal bulan Desember, tengah malem pula dan itu pun nggak setebal di Majalengka.
Seperti biasa, edisi dibuang sayang 😬
Sesampainya di Kawali, kami mampir dulu ke Rumah Makan Haji Abas. Letaknya ga jauh dari situs Astana Gede, sekitar 6 menit pake kendaraan.
Rumah makan ini cukup terkenal karena harganya terjangkau. Banget. Saya pribadi udah beberapa kali ke sini bareng orang tua sama kakak saya juga, sementara Jembar dan Rofie belum pernah sama sekali. Sekalian makan sore, karena perut juga udah nendang-nendang bun.
Saya beli nasi (lumayan banyak), ayam 1, ikan cere tepung goreng 1 porsi, tempe cingcang 1 porsi, cuma 12 ribu. Perut kenyang, dompet tenang, hati pun senang.
Setelah makan dan shalat ashar, kami kembali melanjutkan perjalanan. Alhamdulillah, kami tiba kembali di Ciamis dengan selamat sentosa ketika adzan maghrib berkumandang.
Balas melalui email.