Sepenggal Kisah Menempuh Pendidikan
Di mata saya, pendidikan adalah prioritas. Kalau menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan adalah suatu proses memanusiakan manusia, menurut saya, pendidikan adalah suatu proses untuk membuka pikiran manusia. Maksudnya, dengan pendidikan, kita bisa melihat suatu permasalahan tidak hanya dari satu sisi saja, melainkan dari sisi lainnya juga. Menjadi lebih kritis dalam berpikir, dan bijak dalam bertindak.
Dan itulah alasan kenapa saya sangat memprioritaskan pendidikan, sehingga saya selalu “keukeuh” ke orang tua saya jika nanti saya lulus SMA, saya ingin melanjutkan kuliah. Dan Alhamdulillah, niat saya itu bisa terwujud. Semua karena dukungan dari berbagai pihak, terutama dari keluarga yang selalu mendukung saya apapun keputusan yang saya buat, selama tidak menyimpang dari ajaran agama.
Dan pada kesempatan kali ini, di tulisan kali ini, saya bermaksud untuk sedikit berbagi perjalanan saya selama menempuh pendidikan. Tidak ada niat untuk pamer atau sebagainya, tidak sama sekali. Hanya ingin berbagi, dan mudah-mudahan bermanfaat serta bisa memotivasi kalian yang punya semangat tinggi dalam pendidikan, tapi harus terkendala dengan materi.
Awal Perjalanan
Dimulai saat saya masih SMP. Di masa inilah saya menyadari betapa pentingnya pendidikan. Tumbuh dan berkembang di antara orang-orang hebat dan pintar. Dipimpin oleh kepala sekolah yang sangat menjunjung tinggi pendidikan. Ini sangat mempengaruhi motivasi belajar saya. Saya jadi lebih terpacu untuk giat belajar agar bisa bersaing dengan mereka.
Singkat cerita, akhirnya saya masuk ke kelas A, dimana semua penghuninya pinter-pinter. Awalnya saya ragu bisa bertahan di kelas ini atau tdak. Tapi dengan usaha yang jauh lebih keras, alhamdulillah saya bisa mempertahankan prestasi saya ini.
Masalah timbul saat saya menginjak bangku kelas 3. Saat saya hendak lulus, saya harus melunasi Dana Sumbangan Pembangunan sebesar kurang lebih Rp2.500.000,00. Sedangkan saya baru membayar sekitar 900 ribu.
Akhirnya saya dan orang tua merasa kebingungan, bagaimana saya bisa mendapatkan uang sisanya untuk membayar. Saya merasa tidak enak kepada kedua orang tua saya. Saya merasa telah membebani mereka dengan jumlah uang yang harus dibayar ini.
Kami pun memutuskan untuk berkoordinasi lagi dengan pihak sekolah, barang kali ada keringanan. Pihak sekolah mengusulkan untuk membuat Surat Keterangan Tidak Mampu. Bagi siswa yang mengajukan SKTM, maka DSP yang harus dibayarnya sekitar setengahnya, yaitu Rp1.250.000,00. Akhirnya kami memutuskan untuk mengajukan SKTM, dan membayar sisanya. Dan ahamdulillah, ternyata pihak sekolah menerima SKTM kami dan memberi kami keringanan.
Masa SMA
Menginjak SMA, belajar dari pengalaman saat SMP, pada saat pendaftaran saya mengajukan SKTM ke pihak sekolah. Alhamdulillah, diterima. Sehingga saya tidak perlu membayar uang SPP setiap bulannya.
Selain itu, saya juga mendapatkan dana bantuan BOS, yang kemudian dana itu saya gunakan untuk keperluan sekolah, seperti membeli sepatu yang sudah buluk, membayar buku LKS yang sudah nunggak beberapa bulan, dan membeli peralatan tulis. Ini sangat memotivasi saya untuk semakin giat dalam menuntut ilmu di sekolah.
Saya mengikuti cukup banyak organisasi pas SMA, sehingga saya pun kelabakan karena hampir di setiap organisasi yang saya ikuti diwajibkan untuk membeli kaos organisasi atau sebagainya sebagai tanda identitas. Jujur saja, saya sempat pusing dibuatnya. Tapi akhirnya berkat dukungan dari orang tua, saya bisa mengatasi itu semua.
Dan dikarenakan hal ini juga, pada saat kelas XI saya memutuskan untuk memilih fokus di satu ekstrakulikuler saja. Dari 4 ekstrakulikuler yang saya ikuti, saya memilih… pramuka.
Meskipun begitu, saya tetap berusaha untuk berkontribusi, meskipun pada akhirnya saya merasa tidak maksimal karena saya lebih fokus ke pramuka dan cenderung tidak aktif di 3 organisasi itu, bahkan hanya menyandang status anggota. Yah, mungkin melakukan sesuatu dalam waktu hampir bersamaan bukanlah keahlian saya.
Kuliah
Niat saya dari jauh-jauh hari memang sudah bulat: setelah lulus SMA, saya ingin melanjutkan kuliah. Dan niat ini tidak bisa saya jalankan dengan mulus, ada rintangan-rintangan yang menghadang ketika saya hendak melaksanakan niat ini. Rintangan yang paling utama adalah masalah ekonomi. Orang tua saya tidak mampu untuk membiayai kuliah saya.
Saya pun sempat pesimis, dan sempat berpikiran untuk kerja dulu selama setahun, mengumpulkan uang untuk biaya kuliah nanti. Tapi pilihan ini saya taruh di pilihan paling akhir. Prioritas saya masih tetap: kuliah!
Saya pun berencana untuk mendaftarkan diri ke program beasiswa Bidikmisi, beasiswa untuk orang-orang yang kurang mampu tapi ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Jika saya mendapatkan beasiswa ini, maka orang tua saya tidak perlu dipusingkan dengan Uang Kuliah Tunggal yang angkanya mencapai jutaan itu.
Dan, alhamdulillahnya lagi, ternyata saya lolos SNMPTN, dan saya Bidikmisi saya diterima!
Kesimpulan
Sekarang sudah tidak ada alasan lagi tidak melanjutkan sekolah karena ekonomi. Asalkan kalian punya modal keinginan kuat, Insha Allah, selalu akan ada jalan. Apalagi di zaman yang serba teknologi sekarang, informasi bisa didapat dengan sangat mudah. Informasi beasiswa bisa didapatkan di internet.
Yah, itulah sedikit penggalan tentang kisah saya dalam mencari cara agar bisa sekolah dan kuliah di tengah-tengah kondisi ekonomi keluarga yang serba pas-pasan. Sekali lagi saya tegaskan, saya tidak bermaksud untuk pamer dan menyombongkan diri. Hanya untuk berbagi dengan kalian para pembaca, dan saya harap tulisan sederhana ini bisa menginspirasi pembaca untuk terus menempuh pendidikan setinggi mungkin.
Balas melalui email.