Rindu Kampung Halaman
Kemarin saya ditelpon oleh ibu saya. Beliau bertanya soal kabar saya di tanah rantau. Saya jawab baik-baik saja. Tujuan utamanya menelpon sih, hanya ingin mengkonfirmasi apakah uang yang ditransfer oleh kakak saya sudah masuk atau belum. Saya jawab: “Sudah. Malahan sudah diambil.”
Selanjutnya kami berbincang-bincang soal kondisi rumah, bagaimana kondisi adik saya yang beberapa minggu lalu sakit maag-nya kambuh lagi. Padahal dia masih 6 tahun, tapi kata ibu maag-nya sudah kronis. Kalau dipikir-pikir lagi memang wajar sih, mengingat dia kalau makan, porsi makannya sama dengan porsi makan anak kucing di rumah saya yang baru berumur 3 bulan (sekarang sudah 4 bulan kali ya, lupa). Sedikiiiit banget. Memang. Sebelum-sebelumnya sudah saya ‘paksa’, tapi dia tetap ‘keukeuh’ cuma makan 3 suap nasi.
Tapi kalau soal jajan, dia mah nomor 1. Jatah jajannya sehari mungkin lebih besar dari jatah harian saya yang waktu SMA diberi 7 ribu, sudah termasuk ongkos pulang-pergi ke sekolah. Jadi bersihnya sih sekitar 4 ribuan. Sementara adik saya itu, sekali jajan bisa 3 ribu, bahkan 5 ribu. Tak jarang ibu saya dibuat pusing oleh dirinya yang keseringan jajan itu. Tapi baik saya dan ibu memaklumi, ya orang namanya juga anak kecil. Waktu saya seumuran dia pun saya sering jajan ke warung dekat rumah saya, malah sampai ngutang, he he he.
Di sela-sela percakapan itu, entah kenapa, terbesit keinginan untuk pulang. Ingin melepas rindu dengan rumah, dengan orang tua, dengan adik. Melupakan sejenak urusan kuliah seperti tugas-tugas dan organisasi. Just having a quality time with my family. Sehingga saya pun mengutarakan keinginan ini kepada ibu saya.
“Ya kalau mau pulang mah, bilang dulu ke mamah. Lagian si ade juga ini udah nanyain terus, katanya kangen si aa. Suka ingat sama si aa kalo dengerin lagu-lagu yang disetel si Neng Hilda.”
Saya pun hanya senyum-senyum sendiri. Heran deh, tapi lucu juga sih. Heran karena, memang saya tidak tahu apa hubungannya lagu-lagu barat yang disetel si Neng Hilda sama saya, gitu, sampai-sampai kalau adik saya denger lagu itu dia jadi ingat kepada saya. Ibu saya pun sama tidak tahunya dengan saya ketika saya tanyakan kenapa. Ah, pemikiran anak kecil memang unik, tapi kadang susah dimengerti, he he he.
Seperi biasa, telepon pun ditutup setelah ibu saya memberikan sepatah-dua patah pepatah (nah loh) untuk saya. Setelah telepon ditutup, niatnya mau langsung bikin post tentang ini, cuma kelupaan, malah bikin post sebelumnya.
Yah, intinya sih, saya lagi kangen tanah kelahiran. Saya rindu dengan suasana di rumah, rindu sensasi dingin Situ Lengkong Panjalu, sambil minum kopi untuk menghangatkan badan. Rindu bercengkrama dengan orang-orang rumah, terutama ibu, semoga beliau selalu diberi kesehatan oleh Allah SWT.
Ada satu quote yang cukup menarik dari penulis favorit saya, ayah Pidi Baiq, bunyinya begini:
“Meski kita berdiri di tanah perantauan, jangan pernah lupa jika kita dibesarkan di tanah kelahiran.”
Balas melalui email.