Perlukah Kita Marah?
Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang menjadi marah: kekecewaan yang mendalam, merasa tersinggung atas perkataan atau perbuatan seseorang, atau karena masalah-masalah lainnya yang hanya dipikirkan, tanpa dicari solusinya sehingga hanya berputar-putar dalam pikiran.

Ketika seseorang marah, apapun yang ada di hadapannya terasa sangat mengganggu. That’s why, kalau orang lagi marah biasanya ingin saja mengenyahkan benda-benda dihadapannya, bahkan ada yang bilang ingin makan orang dalam konteks yang bercanda. Bahkan, penulis sempat melihat dalam sebuah acara di stasiun televisi swasta, bahwa ada sebuah bisnis yang menyediakan tempat untuk meluapkan amarah. Peserta diberikan pemukul bola kasti dan seragam khusus, kemudian disediakan sebuah ruangan khusus yang di dalamnya sang pelanggan bebas untuk memukul benda-benda yang kebanyakan adalah benda-benda yang mudah pecah seperti piring, gelas, vas bunga, menggunakan pemukul bola kasti tersebut.
Tidak jarang, kemarahan diluapkan dalam bentuk kata-kata kasar dan perbuatan-perbuatan yang kuang berkenan. Perbuatan-perbuatan ini biasanya akan menyinggung atau menyakiti perasaan orang lain, yang mana pada akhirnya orang tersebut memilih untuk menjauhinya. Untuk lebih jauhnya, mungkin di lain kesempatan ketika orang yang marah tadi meminta bantuan kepada orang yang terkena imbas amarahnya itu, dia akan merasa enggan atau bahkan tidak sudi untuk membantunya.
Hal ini, dan beberapa kalimat bijaksana lainnya, yang membuat penulis sendiri berpegangan pada suatu kesimpulan, bahwa kita tidak perlu marah. It doesn’t make you feel good after all. Mungkin dengan meluapkan amarah bisa sedikit meredakan emosi yang bergolak. Akan tetapi, coba berpikir lebih jauh. Coba pikirkan dampaknya.

Dalam suatu hubungan, kemarahan menyebabkan terganggunya komunikasi, sehingga akan menimbulkan keretakan, bahkan lebih parahnya lagi, berakhirnya hubungan tersebut. Membayangkan hubungan yang sudah susah payah dibangun selama bertahun-tahun dengan banyak pengorbanan, dan kandas begitu saja karena amarah, trust me, it really hurts. Penulis memang belum pernah mengalami hal tersebut, tapi apa salahnya belajar dari pengalaman orang lain.
Dalam kehidupan sosial, kemarahan dapat menyebabkan kita dijauhi orang-orang sekitar kita. Lebih parahnya lagi, teori labelling berlaku: seseorang dicap sebagai seorang pemarah, padahal sebenarnya dia hanya marah sekali-dua kali. Orang yang diberi label tersebut, cenderung akan men-judge dirinya sendiri bahwa dirinya memang pemarah, dan melanjutkan label yang diberikannya itu.
Dalam agama pun, kemarahan adalah salah satu perilaku tercela karena cenderung merusak, bukan hanya benda-benda di sekitar, tapi merusak hati. Ketika hati rusak, seseorang cenderung melakukan perilaku-perilaku tercela lainnya.
Setelah beberapa dampak di atas, masihkah kita berpikir untuk marah ketika kita kecewa atau tersinggung? Jika pada kenyataannya kita masih saja ingin marah, coba ingat tulisan ini, dan beberapa tulisan lainnya yang serupa. Tarik nafas dalam-dalam, hembuskan, kemudian ingat bahwa kemarahan hanya akan memperburuk suasana. Keep in mind that anger doesn’t make you feel good after all.
Balas melalui email.