Konsistem Menulis itu Sulit
Ada sebuah blog, yang sering saya kunjungi setiap harinya hanya untuk sekedar mengecek apakah sudah ada tulisan baru yang dibuat atau belum. Tulisannya enak sekali dibaca. Ringan, dan sarat sekali akan wawasan penulisnya. Saya pun tidak sengaja menemukan blog ini ketika menekan tombol next blog pada fitur blogspot.
Hampir setiap hari, sang penulis blog selalu membuat sebuah tulisan. Isinya pun bermacam-macam. Ada yang tulisan tentang keseharian sang pemilik blog, ada pula yang membahas sebuah topik yang serius. Selain itu, panjang tulisannya pun bermacam-macam. Ada yang panjang, ada juga yang hanya 5-6 paragraf.
Selain takjub akan tulisan-tulisannya, saya pun takjub akan konsistensi dalam menulisnya itu. Pokoknya, setiap hari harus update blog. Itulah prinsipnya. Memang, terkadang sang pemilik blog tidak update, tapi itu pun hanya selang satu hari. Paling lama sekitar seminggu. Itu pun, katanya, gara-gara dia kesulitan mendapatkan jaringan internet di daerahnya.
Bukti konsistensinya dalam menulis adalah, dia telah menulis sejak dari tahun 2005, dan sudah lebih dari 1000 tulisan yang dipublikasikan! Berarti, blog itu sudah berumur 11 tahun. Lebih tua dari umur adik saya, he he.
Di saat blog-blog lain yang seumuran sudah tumbang dimakan zaman (maksud saya, sekarang blog sudah tergeser popularitasnya oleh sosial media), blog ini masih setia menyajikan konten-konten yang menarik.
Mempertahankan konsistensi ini bukan perkara yang mudah. Konsistensi, apapun itu, selalu terasa sulit. Karena, selalu saja ada gangguan dari mana saja: dari luar maupun dari dalam.
Inilah yang menyebabkan blog ini memiliki frekuensi update yang tidak tentu. Kadang sehari bisa dua tulisan, atau satu, atau bahkan tidak sama sekali hingga berhari-hari. Berminggu-minggu. Paling parah, bertahun-tahun, he he he.
Ini disebabkan karena beberapa hal. Yang pertama, karena saya seringkali kehabisan ide untuk menulis. Membuat saya kebingungan harus menulis apa di blog ini. Yang kedua, rasa malas di dalam diri menyebabkan jari-jari saya kesulitan untuk bergerak di atas keyboard, he he.
Kalau dipikir-pikir, sangat disayangkan memang, karena kemalasan saya ini banyak ide yang harusnya saya tuangkan dalam sebuah tulisan menjadi terbuang sia-sia.
Kedua hal itu yang menyebabkan saya tidak konsisten dalam menulis di blog. Yang paling susah, ketika berhadapan dengan rasa malas itu. Sekalinya sudah malas, saya suka malas melakukan apapun, termasuk mengerjakan tugas kuliah yang deadline-nya tinggal beberapa hari lagi.
Satu hari, satu tulisan
Salah satu solusi untuk mengatasi ini adalah dengan menerapkan sistem satu hari satu tulisan, atau one day one post. Suati sistem di mana kita harus membuat sebuah tulisan, apapun itu, minimal satu dalam sehari.
Banyak para blogger yang menerapkan sistem ini, dan berjalan dengan baik. Cara ini juga dilakukan supaya si pemilik blog tidak kehilangan pembaca setianya. Selain itu, sistem ini juga “memaksa” kita untuk terus konsisten menulis.
Menulis karena hobi
Ada yang pernah bilang, bahwa jika sudah hobi, maka akan lain lagi urusannya. Rumit, bahkan terkadang tidak rasional. Seorang kolektor rela mengeluarkan uang ratusan juta hingga milyaran rupiah hanya untuk mengoleksi sebuah lukisan kuno yang dibuat oleh pelukis terkenal di zamannya.
Mereka tidak keberatan sama sekali untuk melakukan itu semua. Justru timbul sebuah kebanggaan ketika kita berhasil mendapatkan sesuatu itu, yang berhubungan dengan hobi kita.
Atas dasar inilah, jika kita menerapkannya kepada kegiatan menulis, makakita pun tidak akan pernah merasa keberatan menerapkan sistem satu hari satu tulisan itu. Tidak merasa terpaksa, sehingga menulis pun jadi kegiatan yang menyenangkan.
Yah, saya pikir, kedua hal inilah yang harus saya miliki sekarang. Dan sepertinya saya pun harus membuat sebuah jam khusus untuk mem-publish tulisan saya di blog. Hmm… mudah-mudahan saya bisa konsisten kali ini.
Balas melalui email.