Harus Menulis 10 Lembar Esai
Minggu kemarin saya ada quiz Kewarganegaraan. 25 soal, dan setiap soalnya hanya diberi beberapa menit untuk menjawab.
Peraturannya ketat sekali: tidak boleh ada coretan-coretan koreksi baik dengan pulpen atau dengan tipe-ex. Dan yang jelas: dilarang mencontek! Jadi dengan kata lain, kami harus berhati-hati dalam menjawab soal, memikirkan kata-kata yang tepat untuk jawaban yang kami tulis. Kemampuan merangkai kalimat pun diuji di sini.
Bapak Dosennya memang terbilang tegas. Tegas sekali. Pada waktu perkuliahan, ada yang ngobrol sedikit, disuruh keluar ruangan. Makanya tidak ada yang berani main-main. Ketika perkuliahan dimulai, hening. Semua fokus kepada penuturan pak dosen.
“Jika nomor 3, 4, 5, 6, 7 salah, maka buat esai masing-masing 5 halaman.” ucap beliau. Nomor-nomor itu adalah soal tentang hari-hari bersejarah di Indonesia. Saya sendiri salah di nomor 3 dan 4. Soalnya, kapan hari kebangkitan nasional, dan kapan Boedi Oetomo didirikan.
Maka di sinilah saya, di depan hadapan laptop. Mencoba untuk membuat sebuah esai 10 lembar, ditulis tangan di atas kertas folio bergaris, bertemakan tentang kebangkian nasional dan Boedi Oetomo!
10 lembar kertas folio bukanlah jumlah lembar yang sedikit untuk ditulis tangan. Bahkan jika diketik saja itu sudah merupakan jumlah halaman yang banyak untuk saya pribadi. Saya paling kuat hanya menulis sekitar 1200 kata. Itu juga terkadang suka mentok mau nulis apa lagi.
Hmmm…
Kalau mengeluh pun hanya akan memperburuk suasana saja. Saya jadi ingat kisah sang penakluk Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih, dalam usianya yang masih muda (mungkin seumuran dengan saya sekarang), dia sudah menjadi tumpuan harapan tiga generasi akan takluknya Konstantinopel. Dan tidak sedikitpun dia mengeluh dan mengutuki karena telah diberi amanah yang berat.
Balas melalui email.