Apa Ciri Khas Perfilman Indonesia?
Note:
Tulisan ini saya sunting untuk mengganti kata “gue” jadi “saya” untuk alasan konsistensi.
Suatu hari saya pernah ngobrol-ngobrol sama bokap, soal film India dan film Barat. Di suatu dialog, dia bilang kira-kira kayak gini:
“Film India mah, banyak adegan sedihnya. Beda jauh sama film Eropa.”
Saya hanya meresponnya dengan tawa. “Yah, mungkin itu ciri khasnya masing-masing,” tambah saya.
Kalau kita lihat film-film India (kesukaan bokap-nyokap banget) atau Turki yang ada di pertelevisian kita, kayak Uttaran, Beintehaa, Mahaputra, Savitri, Efsun dan Mahar (eh, kok saya hafal ya?), di tiap episodenya, para aktornya pasti ada yang berakting meneteskan air mata. Atau kalau nggak, pasti ada-lah, adegan mellow yang bikin mewek, tapi sayangnya itu nggak berlaku buat saya.
Kenapa? Karena saya sadar satu hal: most of the India film, will be happy in the end. Film India mirip sama anime Naruto yang tokoh utamanya selalu menang dan berakhir bahagia, bahkan udah sekarat pun selalu ada keajaiban buat si tokoh utama, yang di dunia nyata, boro-boro bisa begitu. Jadi rasanya cuma buang-buang air mata aja kalau saya nangis di salah satu adegan film tersebut.
Beda banget sama film eropa kayak Amerika, yang kebanyakan genre action, horror, dan sci-fi. No tears to be shed. Yang ada malah adrenalin kita yang makin terpacu, dan “gagal paham” karena alurnya yang ‘njelimet’ (atau ini yang ngalamin cuma saya aja ya? Haha) dan banyak plot twist-nya.
Berbicara tentang alur yang ‘njelimet’, menurut saya film barat yang alurnya plot twist banget adalah film “Who Am I” yang dibintangi oleh Tom Schilling. Wuih, 5 jari deh buat film itu! Buat yang belum nonton filmnya, saya saranin buat nonton nih pelem. Gak bakalan nyesel deh, pokoknya!
Kalau film India dan Turki terkenal oleh ke-melow-annya, dan film Barat terkenal dengan action, horror, dan sci-fi-nya, then the next question is: how ‘bout our beloved country, Indonesia?
Hmmm. Entahlah. Saya kurang tahu untuk hal yang satu ini. Tapi yang jelas, perfilman di Indonesia mah gado-gado, banyak genre-nya: komedi, romansa, horror (yang entah kenapa, lebih banyak dadanya daripada horornya), sejarah, dan sebagainya, di mana menurut penilaian saya, semua film itu lebih mengejar rating dan popularitas, hampir nggak ada nilai yang bisa diambilnya.
Tapi, kita pun bisa berbangga diri karena kita punya The Raid yang sukses menembus Box Office, sehingga mungkin genre action perfilman Indonesia akan mulai terpandang di mata dunia.
Do you have any opinion for this topic? Let’s discuss!
Balas melalui email.