adipurnm

adipurnm's log

September 27, 2018

Bersikap Bodo Amat itu Penting

Sampul Buku The Art of Not Giving a Fuck

Sudah hampir 2 minggu ini saya sedang membaca sebuah buku berjudul “A Subtle Art of Not Giving a F*ck”, atau jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat”. Untuk sebuah buku ukuran A5 setebal 246 halaman, 2 minggu adalah waktu yang sangat lama untuk menyelesaikannya. But, yeah, saya tipikal orang yang tidak kuat membaca buku lama-lama. Baru baca beberapa menit saja sudah ngantuk.

Ada banyak pelajaran penting yang saya peroleh dari buku ini. Yang paling penting adalah, buku ini mengajarkan kita untuk bersikap bodo amat. Dan menurut buku ini, bersikap bodo amat itu penting.

Nah, lho?

Begini. Sebelumnya mari kita luruskan definisi bodo amat yang dimaksud di sini. Bodo amat, atau masa bodoh, bukan berarti kita apatis; tidak peduli apapun yang ada di sekitar kita, atau bahkan di dunia ini. Menurut buku karangan Mark Manson ini, bersikap bodo amat berarti kita hanya peduli pada sedikit hal, dan hal tersebut merupakan hal-hal yang penting dan berarti bagi kita.

Kita, sejatinya adalah makhluk yang tidak sempurna. Lagian, mana ada di dunia ini yang sempurna. Karena ketidaksempurnaan ini, kita tidak bisa memedulikan segala hal. Yang bisa kita lakukan adalah bersikap bodo amat seperti definisi sebelumnya, dan menerima bahwa memang ada banyak hal di luar kendali kita.

Kenapa penting? Karena, bersikap bodo amat membuat kita menjadi lebih bahagia.

Seperti tagline buku tersebut: “Pendekatan yang waras demi menjalani hidup yang baik”. Dulu, saya tipikal orang yang terlalu memedulikan banyak hal. Hampir sepanjang waktu, saya terus memikirkan hal-hal tersebut, padahal kalau dipikirkan lebih matang lagi, ada hal lain yang lebih pantas untuk dipedulikan. Jika mengacu kepada buku karya Mark Manson ini, saya terjebak dalam “lingkaran setan”. Lingkaran yang terus berulang tanpa ada awal dan akhir.

Apa yang saya rasakan saat itu?

I was really down, and frustated.

Saya berpikir bahwa tidak ada orang yang peduli dengan kondisi saya saat itu. Saya merasa saya benar-benar sendirian, dan kesepian. Dunia terasa sangat tidak adil. Beban di pundak pun terasa sangaaaat berat.

Dan pada akhirnya, “lingkaran setan” itu terputus setelah saya memutuskan untuk bersikap bodo amat.

Saya mulai mengubah cara pandang saya: mau ada orang yang peduli atau tidak tentang kondisi saya, kehidupan akan terus berjalan seperti biasa. Dunia terasa sangat tidak adil? Memangnya kapan dunia adil? Merasa sendirian, kesepian, dan beban di pundak sangat berat? Itu karena mungkin saya tidak mencoba untuk menceritakan atau berbagi masalah saya dengan kerabat dekat saya, atau juga karena mungkin saya selalu menghindar dari masalah yang saya hadapi, bukannya menghadapinya.

Sampai saya menulis ini, kondisi saya jauh lebih baik dari kondisi saya sebelumnya saat belum bersikap bodo amat. Bisa dibilang, saya lebih produktif, lebih bisa mengerjakan pekerjaan sesuai dengan list yang sudah saya susun (saya tipikal orang yang sering pindah dari pekerjaan A ke pekerjaan B, padahal pekerjaan A belum selesai). Dan yang lebih penting, saya merasa lebih bahagia dan lebih lepas.

By the way, jika teman-teman penasaran dengan buku yang saya maksud, teman-teman semua bisa cari bukunya di Gramedia. Nabung dari sekarang, coba beli bukunya, dan baca. Di sana, teman-teman mungkin akan mendapatkan perspektif baru dalam menjalani hidup.

Berani coba?

Balas melalui email.