Bercengkrama di malam minggu
Malam minggu kemarin, saya habiskan di sebuah kafe di Ciamis. Bercengkrama dengan sahabat yang hampir setahun tidak bertemu. Update kehidupan masing-masing, terutama kondisi lapangan pekerjaan IT di Indonesia yang makin sini makin tidak masuk akal.
Sebagai konteks, sahabat saya ini adalah ex-karyawan salah satu perusahaan akuakultur yang kasusnya kemarin-kemarin ramai di media sosial. Saya rasa kalian tau perusahaan mana yang saya maksudkan di sini.
Dia kena layoff di awal tahun ini, sekitar bulan Februari atau Maret. Hingga saat ini, dia baru menerima satu offering letter, itu juga gajinya lowball. Atas beberapa pertimbangan lainnya juga, dia memutuskan untuk tidak mengambil offering tersebut.
“Semoga segera dapat yang cocok”, jawab saya.
Saya pun sharing seputar kesibukan saya belakangan ini: memulai freelancing, dan aktif sharing di blog dan Threads. Alhamdulillah, dari aktivitas ini saya bisa mendapatkan penghasilan tambahan, meskipun belum terlalu besar.
Saya lalu menyarankannya untuk mengembangkan personal website-nya yang dibuat pakai NextJS itu lebih jauh lagi.
NOTE:
Sebagai konteks: urang = saya, maneh = kamu. Nulisnya agak gimana gitu kalau pakai lu-gua, karena percakapan aslinya pakai bahasa Sunda, ahaha.
“Coba tambah fitur yang sekiranya solve problem maneh. Misal, tambah fitur blog sama online shop. Kan lumayan, beres ngoding, fitur itu bisa dipake buat nulis dan jualan”, ucap saya.
“Bingung jualan apa urang”, jawabnya. Saya lalu memberikan referensi toko online saya sendiri.
“Urang jualan e-book sama source code. Alhamdulillah ada beberapa yang beli, termasuk urang sendiri buat testing”, ucap saya. Kami berdua tertawa.
“Sama coba rajin-rajin nulis deh. Karena, kita nggak tau siapa aja yang lihat dan baca tulisan kita, tapi dengan kita rajin sharing, setidaknya pembaca bisa tau kalau kita sering bikin sesuatu. Artinya, kalau orang tersebut mau bikin aplikasi atau website, orang tersebut akan ingat kepada kita”, ucap saya.
“Nah itu, urang tuh ga bisa nulis euy. Ditambah bingung juga mau nulis apa”, jawabnya.
“Nulis mah gampang. Tulis aja dulu sampai selesai. Kalau dirasa kurang rapi, tinggal minta AI yang beresin”, saya memberi saran.
“Tulis aja apa yang maneh pelajari dari side project yang udah dikerjakan, dari awal sampai akhir. Pakai teknologi apa, bagaimana arsitekturnya, dan hal-hal lainnya.”
“Iya ya…”
Percakapan kami berlangsung sekitar 1,5 jam. Masih banyak yang ingin saya ceritakan sebenarnya, tapi waktu yang semakin larut memaksa kami untuk mengakhiri percakapan dan segera pulang ke rumah masing-masing. Saya tidak bisa pulang terlalu larut juga, karena anak saya tidak bisa tidur kalau tidak ada salah satu di antara saya atau istri.
Pertemuan yang singkat, tapi cukup menyenangkan karena kami bisa bertukar pikiran satu sama lain.
Balas melalui email.
Suka dengan karya/tulisan saya?