adipurnm

adipurnm's log

February 14, 2020

Allah Maha Baik, Saya Saksi Hidup-Nya

Allah Maha Baik dan saya saksi hidup-Nya.

Kasus 1

Tahun 2015, semester 6, orang-orang sibuk mendaftar ke sana ke mari. Tentu saja sebelumnya daftar ke universias impian masing-masing. “Hanya untuk jaga-jaga saja,” kata mereka, “kalau tidak diterima di universitas dan di program studi yang diinginkan, masih ada alternatif yang bisa dipilih.”

Sementara saya? Benar-benar mengandalkan jalur SNMPTN, tanpa daftar sana-sini. Bukan tidak ingin, keterbatasan biaya saat itu sangat tidak memungkinkan untuk mendaftar ke universitas / institut / politeknik lain.

Kalau gagal, rencananya saya akan langsung mencari kerja.

“Bismillah saja, kalau ini memang jalan yang terbaik, Allah pasti izinkan saya melanjutkan studi di universitas pilihan saya.”, hibur saya, sambil tetap mengusahakan yang terbaik dan terus mendekatkan diri kepada-Nya.

Hasil pengumuman SNMPTN pun tiba. Dari 2000 orang lebih pendaftar, hanya 80 orang yang diterima. Dan saya adalah 1 dari 80 orang tersebut, dengan beasiswa bidikmisi.

Alhamdulillah.


Kasus 2

Tahun pertama kuliah, semester genap. Kala itu mahasiswa bidikmisi tinggal di asrama selama satu tahun. Di akhir semester genap, bingung cari kosan. Tanya sana-sini, dan dapat ditarik kesimpulan kalau kosan di sekitar kampus saya ini rata-rata kisaran 4 – 6 juta setahun. Jarang sekali ada kosan di bawah 4 juta.

Bagi saya yang hanya mengandalkan beasiswa bidikmisi, tentu saja kemahalan.

Kakak saya dulu menawarkan opsi ngontrak satu rumah dengannya, karena rencananya dia hendak melanjutkan studi S2 di Unpad. Tapi nyatanya niatnya urung karena satu dan lain hal.

Bingung, sebingung-bingungya waktu itu.

Tapi Allah Maha Baik. Selama kuliah saya bergabung dengan paguyuban mahasiswa asal daerah saya. Dan saat itu, ada yang menawarkan untuk ngontrak. Setelah dihitung-hitung ternyata perorang setahun bayar 2 juta saja. Setengah harga dari harga kosan termurah di sekitar kampus saya.

Alhamdulillah.


Kasus 3

Mengandalkan beasiswa saja ternyata belum cukup. Kebutuhan kuliah banyak, apalagi kalau ikut organisasi atau kepanitiaan. Perlu pemasukan tambahan agar kebutuhan dapat terpenuhi.

Upaya pertama: danus makanan ringan. Alhamdulillah, untung yang diperoleh cukup untuk makan satu hari. Tapi terkadang bentrok sama danus kepanitiaan tertentu, sehingga mau tidak mau pada akhirnya saya mengalah.

Upaya kedua: usaha bidang jasa. Teman sekontrakan saya mengajak untuk merintis usaha, atas pertimbangan banyaknya motor di kontrakan tapi jarang sekali dipakai. Tercetus ide membuat usaha delivery makanan dan barang.

Saya masih ingat, konsumen pertama saya minta dibelikan gas portable, dikirim ke daerah sekitar Jembatan Cincin, ketika waktu maghrib. Pengalaman pertama selalu menyenangkan ya, hehe. Oh ya, selain delivery makanan, sempat juga buka jasa desain dan pembuatan website.

Alhamdulillah, dari usaha-usaha ini, Allah cukupkan kebutuhan saya selama kuliah.


Kasus 4

Tingkat akhir kuliah, semester 8 akhir, bulan Juni. Kontrakan sudah habis. Mau tidak mau harus pindah dari kontrakan. Padahal skripsi tinggal sedikit lagi. Rasanya tanggung kalau harus nge-kost lama-lama.

Akhirnya survey, cari kosan yang bisa perbulan. Tanya sana-sini. Akhirnya dapat info dari salah satu teman kontrakan yang sudah terlebih dahulu nge-kost ketika tingkat akhir. Katanya, di tempat dia kost bisa perbulan. Sebulan 500 ribu, termasuk kamar mandi dalam, lemari, dan kasur.

Untuk kost seharga 500 ribu, fasilitas tersebut menurut saya termasuk lengkap. Tabungan dari beasiswa dan hasil usaha sampingan pun masih mencukupi untuk nge-kost di tempat teman saya tersebut.

Alhamdulillah.


Kasus 5

Tabungan semakin menipis. Skripsi sudah selesai dan dinyatakan siap sidang akhir. Kebutuhan untuk persyaratan sidang akhir ternyata tidak sedikit.

Lagi-lagi, Allah Maha Baik. Ketika sedang mempersiapkan untuk sidang akhir, salah satu kakak tingkat saya mengabari, bahwa di kantornya sedang buka posisi yang sesuai dengan kemampuan saya. Setelah melakukan beberapa pertimbangan, akhirnya saya mencoba apply.

Alhamdulillah, setelah melalui beberapa tes dan wawancara, saya diterima dan mulai masuk kantor seminggu setelah saya selesai sidang akhir.


Kasus 6

Waktu awal-awal kerja, masih belum dapat kosan. Masih nebeng di kosan teman kampus saya yang ternyata sudah lebih dahulu masuk kerja.

Selepas kerja, saya menyempatkan diri untuk mencari kostan. Ampun, susah sekali mencari kosan di bawah 1 juta di Dago. Ada satu yang saya temukan, tapi kondisinya menurut saya kurang layak.

Lagi dan lagi, Allah Maha Baik. Saya disarankan untuk bertanya kepada penjaga kantor, Pak Hirman namanya. Saya pun meminta rekomendasi dari beliau, mengingat beliau adalah “warlok”.

Di antara kostan yang beliau tawarkan, saya memilih 1 kostan yang terletak dekat sekali dari kantor: nggak sampai 5 menit jalan kaki, dengan harga hanya 650 ribu perbulan.

Alhamdulillah.


Masih banyak lagi kasus-kasus Allah Maha Baik yang saya alami, yang rasanya akan terlalu panjang kalau saya tulis semua di sini. Sungguh, setelah semua kebaikan yang telah Allah berikan kepada saya, saya adalah hamba yang kurang ajar dan tidak tahu diri jika saya masih saja meragukan Allah.

Maka benarlah Firman Allah dalam surat Al-Insyirah ayat 4 dan 5:

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

Dan tentu saja. Ar-Rahman ayat 13 menjadi ayat yang paling mengena bagi saya.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Balas melalui email.